PRODUKSI DALAM EKONOMI
PRODUKSI DALAM EKONOMI
A. Perkembangan Produksi
Produksi Materi (Barang-barang) Kebutuhan Merupakan Basis dari Kehidupan Sosial. Banyak pendapat mengenai siapa apa yang menyebabkan adanya perkembangan masyarakat. Seorang agamawan misalnya, mengatakan bahwa perkembangan masyarakat itu adalah takdir Tuhan. Namun, ilmu pengetahuan dan praktek membuktikan bahwa tidak ada kekuatan supranatural yang mendorong perkembangan masyarakat. Sementara para ilmuwan borjuis berpendapat bahwa perkembangan sosial tergantung pada lingkuangan alam, yakni kondisi alam semiasal iklim, tanah, mineral, dan lain-lain. Memang benar bahwa kondisi alam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan masyarakat, tapi itu tidak menentukan. Sebagai bukti, selama 300 tahun telah terjadi suksesi (pergantian) sistem sosial di Eropa Barat dan bahkan terjadi empat kali di Eropa Tengah dan Timur; namun selama periode tersebut kondisi alam di Eropa belum pernah mengalami perubahan sama sekali. Beberapa orang berpendapat bahwa arah perkembangan sejarah hanya tergantung pada pada kehendak para tokoh negarawan yang ada, para jenderal dan sebagainya. Kenyataannya, sebaliknya, para tokoh-tokoh itu bisa mendukung ataupun menghambat suatu perubahan, namun mereka tak mampu menentukan arah sejarah.
Lalu apa yang menentukan perkembangan masyarakat? Jawabnya : “Dalam rangka mempertahankan hidup, orang harus makan dan berpakaian, memiliki rumah dan barang-barang lain sebagai sarana hidup. Untuk memilikinya, orang harus berproduksi, artinya harus bekerja. Masyarakat manapun akan punah jika tidak mau memproduksi barang kebutuhan. Oleh karenanya, produksi barang kebutuhan adalah basis kehidupan dan perkembangan masyarakat.
Yang dimaksud dengan produksi barang kebutuhan adalah : proses menghasilkan barang-barang kebutuhan yang memasukkan (=menggunakan, menggabungkan) tenaga kerja (labour), faktor-faktor kerja (mean of labour), dan obyek kerja (object of labour) .
Tenaga kerja (labour) = tindakan yang mempunyai tujuan yang dilakukan oleh manusia yang diarahkan untuk menghasilkan barang kebutuhan. Proses produksi tidak cukup jika tanpa alat-alat kerja.
Faktor kerja (means of labour) = semua barang yang dengan bantuan tindakan manusia terhadap suatu benda/obyek kerja dan merubahnya. Faktor-faktor kerja meliputi : mesin dan perlengkapan, peralatan, bangunan, fasilitas transportasi, saluran air, jaringan listrik, dll. Tanah adalah merupakan alat produksi yang universal. Instrumen (peralatan) produksi memainkan peran yang paling menentukan dibandingkan dengan faktor-faktor produksi yang lain. Kemampuan manusia mempengaruhi alam tergantung pada instrumen (peralatan) yang ia gunakan. Manusia primitif menggunakan batu dan tongkat sebagai instrumen produksinya, oleh karenanya mereka sangat tidak berdaya dihadapan alam. Manusia modern bekerja dengan bantuan mesin, dan kekuasaannya terhadap alam meningkat terus. Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa : epos (sejarah besar) ekonomi dibeda-bedakan tidak dari apa yang diproduksi tetapi dari instrumen apa yang digunakan untuk berproduksi.
Dengan instrumen produksi mereka, orang berbuat terhadap obyek kerja (objects of labour). Obyek kerja = segala sesuatu yang menggunakan tenaga kerja manusia. Dan karena tenaga kerja digunakan terhadap alam yang mengelilingi kita, alam itu sendiri (tanah dan segala hal di atas bumi ini) adalah merupakan obyek kerja yang universal. Semua obyek kerja primer disediakan oleh alam. Manusia harus menyesuaikan diri terhadap obyek kerja yang disediakan alam tersebut.
B. Tenaga Produksi Dan Hubungan Produksi
Faktor kerja (menas of labour) dan obyek kerja (objects of labour) secara bersama-sama membentuk faktor produksi (means of production). Tetapi, faktor-faktor produksi itu sendiri tidak tak mampu menghasilkan barang-barang kebutuhan. Peralatan mesin yang paling canggih sekalipun tak bisa jalan tanpa ada orang-orang yang mengoperasikannya. Tanpa buruh, pabrik hanyalah rumah-rumah hantu, mesin hanyalah rongsokan tak berguna dan uang hanyalah sekumpulan angka, begitu kata seniman Wiji Thukul. Karena itu, faktor yang paling menentukan dalam semua aktivitas produksi adalah manusia itu sendiri, tenaga kerjanya.
Produksi selalu mempunya dua aspek : kekuatan produktif (productive forces) dan hubungan produksi (relation of production). Kekuatan produktif meliputi faktor-faktor produksi yang dibuat oleh masyarakat dan peralatan-peralatan kerja, dan juga orang-orang yang memproduksi barang kebutuhan tersebut. Mengapa orang-orang masuk di sini karena pengetahuan mereka, pengalaman dan keahlian mereka, yang mengembangkan alat-alat produksi, yang meningkatkan alat-alat tersebut, mengembangkan mesin-mesin.
Tetapi orang memproduksi barang-barang kebutuhan tidak dengan bekerja sendiri-sendiri, tetapi bekerja bersama-sama dalam kelompok, secara sosial, atau secara kolektif. Sebagai contoh adalah pabrik sepatu. Berapa banyak orang yang bekerja di sana, hanya untuk membuat satu macam komoditas alas kaki? Akibatnya, proses memproduksi barang-barang kebutuhan menghubungkan orang-orang menjadi bersama-sama, membuat tergantung satu sama lainnya, dan mengharuskan ada hubungan satu-sama lainnya.
Hubungan antara orang-orang dalam proses produksi, distribusi dan pertukaran barang kebutuhan disebut hubungan produksi atau hubungan ekonomi. Hubungan produksi bisa berbentuk co-operasi dan saling membantu diantara orang-orang yang bebas dari penghisapan, atau bisa merupakan suatu bentuk penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya. Ini tergantung siapa yang memiliki faktor-faktor produksi (tanah dan mineral, hutan, pabrik-pabrik dan workshop, alat-alat kerja, dan sebagaianya). Jika faktor-faktor produksi dimiliki oleh swasta/pribadi, tidak dimiliki oleh seluruh masyarakat tetapi oleh individu secara sendiri-sendiri, kelompok sosial tertentu atau kelas sosial tertentu, hubungan produksi tersebut akan melahirkan penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya, menghasilkan dominasi dan sub-ordinasi. Ini karena, para buruh dibawah sistem kapitalisme telah dirampas kepemilikannya atas faktor-faktor produksi sehingga mereka harus bekerja untuk kapitalis. Dalam sistem ekonomi sosialisme, faktor-faktor produksi menjadi milik sosial (milik masyarakat), maka, tidak ada penghisapan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya, dan hubungan antara orang-orang menjadi hubungan perkawanan yang saling kerja sama dan saling membantu dan karena itu manusiawi.
Hubungan manusia terhadap faktor-faktor produksi menentukan tempat dimana orang menguasai produksi, menentukan cara/metode bagaimana produk didistribusikan. Sebagai contoh, dalam sistem kapitalisme kaum borjuasi (yang memiliki faktor-faktor produksi) memiliki seluruh hasil yang dikerjakan oleh para buruh, sementara itu kebanyakan orang hidup dalam jurang kemiskinan. Dalam sosialisme, dimana faktor-faktor produksi menjadi milik rakyat (milik masyarakat), barang-barang konsumen didistribusikan berdasarkan kerja yang telah disumbangkan oleh orang tersebut, dan terus-menerus menghasilkan barang-barang dan standar hidup yang berbudaya yang pasti bagi semua orang-orang yang bekerja (pekerja). Ini yang dimaksud dengan hubungan produksi atau hubungan ekonomi di antara rakyat.
Ada 5 hubungan produksi yang mendasar yang kita ketahui :
- Masyarakat Primitif > faktor produksi menjadi milik masyarakat
- Perbudakan > faktor produksi menjadi milik pribadi (pemilik budak)
- Feodalisme > faktor produksi menjadi milik pribadi (tuan tanah)
- Kapitalisme > faktor produksi menjadi milik pribadi (borjuasi/kapitalis)
- Sosialisme (yang merupakan fase awal dari Komunisme) > faktor produksi menjadi milik masyarakat.
Kepemilikan pribadi atas faktor-faktor produksi tersebut mengakibatkan masyarakat terbagi kedalam dua kelas yang bertentangan mengakibatkan pertentangan kelas, pertentangan yang tak terdamaikan yaitu : pertentangan antara si penindas dan si tertindas. Oleh karenanya, perjuangan kelas dengan kekerasan adalah gambaran yang mendasar dari sebuah masyarakat Perbudakan, Feodalisme dan Kapitalsime. Hanya dalam masyarakat Sosialis-lah dimana terdapat kepemilikin bersama secara sosial terhadap faktor-faktor produksi dan dimana tidak lagi ada perjuangan kelas, masyarakat akan terdiri dari kelas-kelas yang bersahabat, yang rukun, yang damai dan penuh rasa solidaritas kaum buruh dan tani, dan kaum intelejensia sebagai sebuah strata sosial.
Kekuatan produktif bersama-sama dengan hubungan produksi membentuk corak produksi (mode of production). Walaupun Corak Produksi memang menggambarkan gabungan antara Kekuatan-kekuatan Produktif dan Hubungan-hubungan Produksi, kekuatan-kekuatan Produktif dan Hubungan-hubungan Produksi adalah merupakan dua aspek yang terpisah. Dua hal ini berhubungan dan saling mempengaruhi. Keduanya berkembang dalam proses peningkatan produksi.
Kekuatan-kekuatan Produktif merupakan elemen yang paling mobil dalam Corak Produksi; mereka terus-menerus berubah, sebab manusia terus-menerus meningkatkan alat-alat kerja dan mengumpulkan pengalaman-pengalaman dalam berproduksi. Sementara itu, Hubungan-hubungan Produksi berkembang berdasarkan tingkat perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif.
Jika Hubungan-hubungan Produksi mengikuti tingkat Perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif, maka ia berkembangan terus tanpa henti. Negara-negara Sosialis memberikan contoh mengenai ini, disana produksi berkembang sangat cepat, tanpa ada krisis dan pengangguran, karena ia berbasis pada kepemilikan sosial atas faktor-faktor Produksi.
Jika Hubungan-hubungan Produksi tidak mengikuti tingkat perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif, maka ia akan menghancurkan produksi. Contohnya adalah di negara-negara kapitalis, produksi berkembang lebih lambat, dan jika terjadi krisis ekonomi maka akan mendorongnya mundur menjadi terbelakang, dimana jutaan orang di-PHK dan melahirkan ledakan pengangguran. Ini terjadi karena adanya kepemilikan pribadi atas faktor-faktor produksi dan si kapitalis menghindari adanya perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif lebih maju lagi.
Hubungan-hubungan Produksi dihasilkan oleh karakter Kekuatan-kekuatan Produktifnya. Hukum ini yang memberikan basis bagi adanya Revolusi Sosial. Di saat Hubungan-hubungan Produksi tertinggal di belakang perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif, menjadi kadaluwarsa dan menghambat perkembangannya, maka ia tak terhindarkan akan diganti dengan yang baru. Dalam masyarakat yang terbagi kedalam kelas-kelas yang bermusuhan maka Hubungan Produksi yang lama akan diganti dengan Hubungan Produksi yang baru melalui Revolusi Sosial.
Hanya dalam Masyarakat Sosialis, dimana tidak ada pertentangan Kelas, dimana Hubungan-hubungan Produksi berkembang tidak melalui Revolusi Sosial, tetapi melalui rencana yang disesuaikan dengan perkembangan-perkembangan Kekuatan-kekuatan Produktif.
Corak Produksi harus dibedakan dengan Basis Sosial. Basis Sosial merupakan total keseluruhan dari Hubungan-hubungan Produksi dalam masyarakat tertentu, yang mana hubunganya tergantung pada level Kekuatan-kekuatan Produktinya. Basis Sosial terdiri dari antagonistik dan non-antagonistik.
Basis tersebut menimbulkan adanya superstruktur dan menentukan perkembangannya. Superstruktur tersebut antara lain : pandangan-pandangan masyarakat dan lembaga-lembaga politik, filsafat, peradilan, seni, agama/kepercayaan, dll. Dalam sebuah kelas sosial superstruktur tersebut kehilangan watak kelasnya. Dalam menyeragamkannya dengan ide-ide kelas penguasa membuat lembaga-lembaga untuk mempertahankan kepentingannya.
Baik basis maupun superstruktur hanya ada pada periode waktu tertentu. Jika basisnya berubah, maka superstruktur juga berubah. Hilangnya basis feodalisme dan digantikannya dengan kapitalisme, membawa superstruktur feodalisme digantikan oleh superstruktur kapitalisme.Walaupun superstruktur secara keseluruhan tergantung pada basis, beberapa elemen dari superstruktur baru bisa lahir dalam masyarakat lama. Misalnya, dalam masyarakat kapitalis telah muncul idiologi proletariat.
Corak Produksi bersama-sama dengan Superstruktur membentuk formasi sosial-ekonomi. Formasi Sosial-ekonomi yang ada yang kita ketahui dalam sejarah :
- Kommunal-Primitif
- Perbudakan
- Feodalisme
- Kapitalisme
- Komunisme (Sosialisme adalah fase pertama dari Komunisme)
Tiap-tiap Formasi Sosial-ekonomi mempunyai ekonomi, pandangan-pandangan, ide-ide, dan lembaga-lembaga yang berbeda-beda. Perkembangan Formasi Sosial-ekonomi ini meningkat dari yang paling rendah (terbelakang) ke yang paling tinggi (maju). Lahir, berkembang dan hancurnya Formasi Sosial-ekonomi merupakan subyek dari Hukum Perkembangan Sosial.
C. Hukum Ekonomi atas Perkembangan Sosial
Hukum ekonomi membentuk basis perkembangan masyarakat. Hukum ini menentukan berbagai macam hubungan sosial-ekonomi di antara orang-orang (hubungan dalam produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi). Hukum alam dan Sosial merupakan gambaran umum yang obyektif, artinya: ia asli dan berjalan terus baik kita suka maupun tidak. Artinya; orang tidak bisa merubah, mentransformasi ataupun menghentikan.
D. Corak Produksi Kapitalisme
1. Hukum Nilai --Hukum Ekonomi mengenai Produksi Komoditi Persaingan dan Anarkhisme Produksi
Jika kepemilikan pribadi yang berlaku, maka produksi komoditas-komoditas dijalankan secara spontan. Tidak ada lembaga yang berwenang untuk memberi indikasi bagi produser komoditi apa yang seharusnya dihasilkan dan seberapa banyak. Antara wiraswasta dan petani tidak mengkoordinasikan produksi mereka dengan para bisnisman yang lain atau dengan para konsumen. Yang terjadi adalah anarkhi, yakni : tanpa perencanaan, penyakit dalam produksi.
Anarkhisme Produksi ditingkatkan oleh adanya persaingan, oleh perjuangan pahit di antara para produser demi kondisi yang lebih baik bagi produksi dan penjualan, demi laba yang paling besar. Persaingan dan Anarkhisme Produksi adalah merupkan hukum dari produksi komoditi yang berbasis pada kepemilikan pribadi.
2. Modal dan Nilai Lebih
Upah dalam Sistem Kapitalisme adalah nama dari sistem sosial dimana tanah, pabrik-pabrik, dan lain-lainnya dimiliki oleh segelintir orang pemilik tanah dan kapitalis, sementara sebagian besar orang tidak memiliki kekayaan, atau sangat sedikit kekeyaaannya, sehingga dengan sendirinya harus menjadi buruh.
3. Akumulasi Kapital Primitif
Kondisi dasar yang menyebabkan lahirnya kapitalisme : (1) adanya orang-orang yang memiliki kebebasan pribadi tetapi tidak punya faktor-faktor produksi atau alat lainnya, dan karenaya menjual tenaga kerja mereka, dan (2) konsentrasi (pemusatan) faktor-faktor produksi dan sejumlah besar uang di tangan individu-individu tertentu.
Munculnya kapitalisme didorong oleh akumulasi primitif. Akumulasi primitif tidak lain adalah proses sejarah bercerainya produsen dari faktor-faktor produksi. Akumulasi primitif ini dapat kita lihat seperti apa yang terjadi di Inggris, dimana para tuan tanah dengan paksa mengambil tanah umum milik petani bahkan sampai mengusir mereka dari rumah-rumah mereka. Lahirnya borjuasi juga berlangsung dengan pengambilalihan kekayaan negara dan gereja. Banyak orang menjadi gelandangan, pengemis dan preman.
4. Tenaga Buruh Sebagai Komoditi
Tenaga buruh adalah meliputi kemampuan fisik dan mental yang dimiliki seseorang, yang berguna setiap ia memproduksi barang. Nilai tenaga buruh dihitung dalam bentuk uang, berupa upah.
Sebagai komoditi, tentunya nilai tenaga kerja juga mempunyai nilai guna, yang terdiri dalam kapasitas buruh-upahan selama proses kerja untuk membuat nilai yang lebih besar dari pada nilai tenaga kerja dia. Kepemilikan atas tenaga kerjalah yang merupakan sumber dari Nilai Lebih (surplus Value).
5. Produksi Nilai Lebih. Penghisapan Kapitalis
Gambaran spesifik dari proses kerja dalam kapitalisme Buruh bekerja dibawah kontrol kapitalis yang mana sebagai pemilik kerja. Kapitalis menentukan apa yang harus diproduksi, berapa skalanya dan dengan cara bagaimana. Tidak hanya tenaga kerja buruh yang dikuasai oleh kapitalis, tetapi juga produk tenaganya.
Produksi kapitalis adalah kombinasi dari pembuatan nilai-guna dan proses pertumbuhan nilai. Sifat tenaga kerja adalah mendua. Di satu sisi, ia merupakan tenaga kongkrit dan ia menghasilkan nilai-guna. Di sisi lainnya, ia merupakan tenaga abstrak dan ia menghasilkan nilai komoditas. Bagi kapitalis, produksi nilai-guna hanya berarti meraih tujuan dia. Tujuan dan motif penguasaan produksi kapitalis tersebut adalah pembuatan nilai lebih. Penghisapan Kapitalis = Pencurian Nilai Lebih. Jumlah nilai lebih langsung dimasukkan/digabungkan dengan modal (akumulasi modal).
6. Dua Cara Peningkatan Penghisapan Terhadap Kelas Pekerja
(1) Dengan perpanjangan jam kerja
(2) Dengan pemotongan jam kerja, tapi dengan peningkatan produktifitas
E. Kontradiksi Dasar dalam Kapitalisme
Kontradiksi antara karakter sosial dalam produksi dan bentuk kepemilikan pribadi atas hasil produksi. Kontradiksi dasar ini menggambarkan kontradiksi antara Kekuatan-kekuatan produktif dengan hubungan produksi kapitalisme. Jika sosialisasi produksi terus berkembang, kapitalisme menjadi hancur. Untuk menggantinya, kepemilikan kapitalis harus dihapuskan, diganti kepemilikan sosial.
F. Krisis Ekonomi
Sebab dasar krisis ekonomi adalah over-produksi, yang ditandai dengan lesunya perdagangan, kelebihan komoditas di pasar, macetnya pabrik-pabrik, dan banyaknya PHK.. Apakah ini berarti kelebihan barang, makanan, dan lain-lain? TIDAK! Over-produksi tersebut TIDAK ABSOLUT, tetapi RELATIF. Ini adalah akibat dari komoditi yang hanya dibandingkan terhadap permintaan efektif tapi tidak dibandingkan dengan permintaan aktual masyarakat.
Permintaan efektif = jumlah yang dibeli oleh masyarakat
Permintaan aktual = kebutuhan masyarakat terhadap suatu komoditas.
Permintaan (kebutuhan) masyarakat terhadap barang tidak menurun jika terjadi krisis, tetapi terjadi penurunan secara tajam daya beli rakyat. Over-produksi adalah kontradiksi mendasar kapitalisme --kontradiksi antara watak sosial produksi dan bentuk kepemilikan pribadi oleh kapitalis terhadap hasil produksi.
G. Imperialisme
Imperialisme adalah bentuk tertinggi dari kapitalisme. Gambaran umum imperialisme:
- Konsentrasi produksi dan Monopoli
- Terjadi konsentrasi di induk-induk imperialis dan adanya monopoli yang diakibatkan menangnya persaingan modal besar terhadap modal kecil.
- Modal Finasial dan Oligarkhi Financial Uang telah menjadi komoditas dan lahirnya sekelompok kecil pemilik modal yang bisa mempunyai kekuasaan penuh.
Di Amerika dan Inggris, misalnya, pengusaha besar bisa mengatur negara di dunia, IMF bisa mengatur kebijakan ekonomi hampir semua negara, Ekspor Modal dan adanya teritori ekonomi yang membagi-bagi bumi. Dalam rangka persaingan, akhirnya harus ada perebutan wilayah. Dulu bentuknya dengan penjajahan-penjajahan, sekerang bentuknya adalah blok-blok ekonomi seperti : Uni Eropa, AFTA, NAFTA, APEC, dll.

0 Response to "PRODUKSI DALAM EKONOMI"
Posting Komentar