ETIKA BISNIS DALAM PEMASARAN SYARI’AH

 Etika Bisnis Dalam Pemasaran Syari’ah

Islam mengajarkan segala bentuk hal sebagai petunjuk kehidupan, termasuk hubungan manusia dengan pencipta (muammalah ma’a Allah), dan manusia dengan manusia (muammalah ma’a nnaas) dalam interaksi sosial yang sesuai dengan syariat Islam, karena sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Sebagai manusia, kebutuhan saling membutuhkan satu sama lain sangat diperlukan untuk melanjutkan rantai kehidupan, seperti halnya penjual dan pembeli, produsen dan konsumen. Selain itu, hal yang diperlukan manusia untuk melanjutkan rantai kehidupan adalah tidak terlepas dari berbagai macam aktifitas ekonomi, seperti produksi, distribusi, konsumsi, ekspor ataupun impor yang memiliki menggambarkan hubungan manusia dengan pencipta dan sesama manusia.

            Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, yaitu pencampuran aktifitas manusia dengan perkembangan teknologi yang ada pada zaman ini. Sehingga, masing-masing pelaku aktifitas ekonomi dan khususnya produsen atau penjual melakukan segala sesuatu untuk mempertahankan eksistensi bisnisnya untuk menarik perhatian konsumen dengan berbagai jenis metode pemasaran.

            Konsep etika bisnis sudah dijelaskan didalam Islam, yaitu “khuluq” yang mengacu pada nilai moral dan nilai-nilai positif yang berupa: khoir (kebaikan); birr (kebajikan); qist (kesetaraan); ‘adl (keseimbangan dan keadilan); haqq (kebenaran dan baik); ma’ruf (kebaikan, disepakati); dan taqwa (keshalehan).

            Peran Etika Bisnis dan Kunci Sukses Dalam Pemasaran Syari’ah. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran kepada palaku bisnis untuk lebih memperhatikan etika dalam berbisnis dan memberikan gambaran kunci sukses dalam pemasaran syari’ah yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.

A.    Revolusi Industri 4.0 Dan Society 5.0

        Saat ini, istilah perkembangan teknologi dan informasi sering dikenal dengan sebutan era Revolusi Industri 4.0. yang ditandai dengan beragam aktifitas dan pekerjaan manusia dibantu oleh kecanggihan teknologi dan informasi.

        Industry 4.0 adalah industri yang menggabungkan teknologi otomasi dengan teknologi cyber. Selain itu, ini merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur, termasuk sistem cyber-fisik, Internet of Things (IoT),komputasi awan dan komputasi kognitif.

       Setelah Inggris mempelopori perkembangan revolusi industri, kemudian disusul oleh Jepang dengan meluncurkan roadmapyang berkaitan dengan perubahan perilaku kebutuhan manusia pada saat ini yang dikenal dengan sebutan istilah Society 5.0

                  Perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 telah mempengaruhi masyarakat lebih senang mencampurkan teknologi dan informasi untuk kemudahan aktifitas sehari-harinya, salahsatunya yaitu dalam berbisnis, jual-beli dan sebagainya. Namun, tidak semua dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan tersebut merupakan hal yang bersifat positif, akan tetapi beberapa dampak negatif juga ikut berperan didalamnya. Contohnya seperti penipuan dalam jual-beli, pelaku bisnis yang semena-mena dalam berbisnis atau lebih tepatnya tidak memperdulikan etika dalam berbisnis.

B.     Etika Bisnis Dalam Pemasaran Syari’ah

                  Didalam buku Islamic Ethics: An Outline of Its Principles and Scope karya (Hashi, 2011)etika dalam berbisnis sangatlah penting, karena bersifat universal, unik dan berlaku untuk hal bersifat apapun, diantaranya sebagai berikut:

  1. Etika Islam bersifat transcencental, artinya penentuan apa yang etis dan tidak etis, yang tepat dan tidak tepat serta benar atau tidak itu bersumber dari Allah Swt. Selain itu, sumber moralitas itu berasal dari perkataan Allah (kalam illahi), lain halnya etika konvensional yang baik buruknya disebabkan oleh dasar kemanfaatan dan keuntungan semata; 
  2. Sistem etika dalam Islam bersumber dari fitrah diri manusia; 
  3. Standar moral Islam mengajarkan keadilan universal dan kesetaraan manusia; 
  4. Tergantung pada niat diri manusia dan kekuatan keyakinan pada ayat-ayat Allah Swt, maka manusia akan dinilai etis atau bahkan sebaliknya; 
  5. Islam memberikan hak-hak manusia secara keseluruhan. Termasuk hak kebebasan dan kemerdekaan
  6. Islam menawarkan pendekatan sistem terbuka dalam etika, bukan self-oriented yang menimbulkan egoisme untuk memenuhi kepentingan pribadi demi memperoleh keuntungan;
  7. Etika bisnis Islam tidak berorientasi pada keuntungan mayoritas dan minoritas yang tidak baik;   
  8.  Nilai-nilai etika dalam Islam membawa ke-mashlahat-an manusia dan mencegah kemungkaran.

                  Untuk itu pelaku etika bisnis dalam pemasaran syari’ah harus memiliki Sembilan akhlak sebagai pondasi etika dalam berbisnis. Sembilan akhlak tersebut antara lain:

1.      Ber-taqwa atau memiliki kepribadian spiritual;

2.      Berkepribadian baik dan simpatik (shiddiq);

3.      Berlaku adil;

4.      Melayani pelanggan dengan rendah hati (khitmah);

5.      Selalu menepati janji dan menghindari kecurangan (tahfif);

6.      Jujur dan terpercaya;

7.      Tidak su’udon;

8.      Tidak ghibah;

9.      Tidak melakukan suap (riswah).

C.    Kunci Sukses Dalam Pemasaran Syari’ah

                Pemasaran syari’ah merupakan pemasaran yang bersifat nilai-nilai keislaman. Seperti halnya yang diajarkan oleh Rasulullah Saw bahwa kegiatan perdagangan harus berpegang teguh pada kebenaran, kejujuran, dan sikap amanah, namun tetap memperoleh keuntungan. Empat Sifat Rasulullah Saw sebagai Kunci Sukses dalam Pemasaran Syari’ah, yaitu: 

  1. Shiddiq adalah benar 

        Menyampaikan segala macam kebenaran dan kejujuran seorang produsen atau pelaku bisnis sebagai modal keuntungan jangka pendek dan atau jangka panjang.

2.  Amanah adalah dapat dipercaya

        Sifat amanah mendorong seseorang untuk lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, lingkungannya dan masyarakat sekitarnya, karena sifat ini akan berpengaruh terhadap kualitas hubungan seseorang dalam bermuamalah.  

3.  Tabligh adalah menyampaikan

        Dalam konteks ini, tabligh berarti komunikatif dalam menyampaikan informasi, objektif, dan ikhlas memberikan informasi yang berbobot dan akurat (tidak ditambah atau dikurangi), pengucapan dengan tutur kata yang baik dan sopan atau bisa disebut dengan bilhiqmah wa qoulan syadiidan(menggunakan bahasa yang tidak menggurui dan atau merasa paling benar).

            4.  Fathanah adalah cerdas

            Yang dimaksud disini adalah bijak dalam mengambil keputusan, khususnya dalam praktik bisnis atau pemasaran. Selain itu, bijak disini juga bearti tidak pernah putus asa dan kecewa, bahkan harus positif dalam menjalani proses aktifitas pemasaran.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ETIKA BISNIS DALAM PEMASARAN SYARI’AH"

Posting Komentar