PEMBANGUNAN EKONOMI PERSPEKTIF ISLAM

 PEMBANGUNAN EKONOMI PERSPEKTIF ISLAM


Pembangunan bidang ekonomi adalah salah satu strategi untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan bangsa dan salah satu bidang yang menjadi perhatian serius dan strategis disebabkan berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Berbagai perencanaan pembangunan selalu mengarah pada penguatan bidang ekonomi. Indikator keberhasilan pembangunan suatu negarapun dapat dilihat pada ketercapaian target-target ekonominya. Pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita penduduk, jumlah pengangguran, tingkat kemiskinan, dan neraca pembayaran adalah ukuran-ukuran yang dicapai dalam menilai tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi.

            Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat meningkat, yang selanjutnya diiringi dengan peningkatan kemakmuran masyarakat. Sementara itu, istilah pembangunan ekonomi (economic development) biasanya dikaitkan dengan perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang. Ahli ekonomi mengartikan istilah ini sebagai ”economic development is growth plus change” (Pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan-perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi).

            Sedangkan istilah pembangunan ekonomi yang dimaksudkan dalam Islam adalah: “the process of allaviating poverty and provision of ease, comfort and decency in life” (proses untuk mengurangi kemiskinan serta menciptakan ketentraman, kenyamanan dan tata susila dalam kehidupan). Dalam pengertian ini, maka pembangunan ekonomi menurut Islam bersifat multi dimensi yang mencakup aspek kuantitatif dan kualitatif. Tujuannya bukan semata-mata kesejahteraan material di dunia, tetapi juga kesejahteraan akhirat. Keduanya menurut Islam menyatu secara integral dan saling mempengaruhi. Ibnu Khaldun, ia menyimpulkan bahwa pembangunan ekonomi yang ideal adalah yang mampu memenuhi kebutuhan dasar seluruh umat manusia (basic needs), dan ‘dematerialisasi’. Sebaliknya, fenomena konsumsi berlebihan, korupsi moral dan keserakahan ekonomi adalah indikator awal kejatuhan sebuah peradaban.

A.    Pembangunan Ekonomi

                  Ekonomi pembangunan merupakan cabang dari ilmu ekonomi yang bersifat terapan (applied economics). Cabang ilmu Ekonomi ini lahir setelah terjadinya perang dunia kedua atau dua abad setelah lahirnya ilmu ekonomi pada tahun 1776 Masehi. Ilmu ini diperlukan dalam rangka memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Negara-negara yang baru merdeka.

                  Ekonomi Islam pada dasarnya memandang bahwa pertumbuhan ekonomi adalah bagian dari pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi didefenisikan dengan: “a suistained growth of a right kind of output which can contribute to human welfare” (pertumbuhan terus-menerus dari faktor produksi secara benar yang mampu memberikan konstribusi bagi kesejahteraan manusia). Proses pembangunan ekonomi dalam Islam harus memanusiakan manusia. Ia harus terfokus terhadap pendidikan, mengutamakan integrasi sosial dan konservasi terhadap lingkungan. Baginya, pembangunan ekonomi harus berkelanjutan dan tidak melupakan generasi yang akan datang (future generation).

B.     Sistem Pertumbuhan Menurut Ekonomi Islam

                  Pertumbuhan ekonomi menurut ekonomi Islam, bukan sekedar terkait dengan peningkatan terhadap barang dan jasa, namun juga terkait dengan aspek moralitas dan kualitas akhlak serta keseimbangan antara tujuan duniawi dan ukhrawi. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Faktor-faktor tersebut adalah:

(1)  Sumber daya yang dapat dikelola (invistible resources),

(2)  Sumber daya manusia (human resources), dan Wirausaha (entrepreneurship)

(3)  Teknologi (technology).

C.    Investable Resources

                  Investable Resouces adalah segala sumber daya yang dapat digunakan untuk menggerakkan rada perekonomian. Sumber daya tersebut antara lain sumber daya alam, sumber daya manusia maupun sumber daya modal. Islam berusaha supaya sumber daya alam yang ada dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya agar bisa menghasilkan produksi sebanyak banyaknya dan sebaik-baiknya.

                  Untuk itu ada tiga mekanisme yang ditawarkan dalam pemberdayaan sumber daya alam yaitu: pertama, diberdayakan oleh pemiliknya sendiri dengan ditanami. Kedua, diserahkan pada orang lain untuk digarap tanpa adanya kompensasi. Ketiga, memberikan otoritas kepada pihak lain untuk diberdayakan yang diikuti dengan adanya bagi hasil setengah, sepertiga atau seperempat.

                  Gagasan yang ada dalam paradigma ini bahwa betapa pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang lestari. Jika umat manusia menginginkan hidup sejahtera, maka harus memperhatikan keseimbangan ekologi dan ekosistem. Paradigma ini juga berharap masa depan bumi tidak akan terguncang hanya karena kesewenangan manusia dalam mendapatkan fasilitas yang terkandung didalamnya. Jika efisiensi merupakan konsep ekonomi yang didasarkan pada etika, maka konsep berkelanjutan (sustainable) adalah gabungan antara faktor-faktor politik yang memberi manfaat pada semua (warga masyarakat) termasuk generasi mendatang secara adil dan merata tanpa adanya suatu efek yang disakan untuk selanjutnya.

D.    Human Resources dan Entrepreneurship

                  Faktor kedua adalah SDM dan entrepreneurship. Ketika basis ekonomi syariah adalah sektor riil, maka memiliki SDM entrepreneur yang mampu menggerakkan sektor riil Indonesia hingga tahun 2012 menurut kementerian koperasi dan UKM, baru memiliki entrepreneur sebanyak 0,18 persen dari jumlah penduduk.

                  Islam untuk dapat menjadi pelaku ekonomi yang baik dan spritual, orang tersebut dituntun oleh syarat-syarat berikut :

a.  Suatu kontrak kerja merupakan janji dan kepercayaan yang tidak boleh dilanggar walaupun sedikit. Hal ini memberikan suatu jaminan moral seandainya ada penolakan kewajiban dalam kontrak atau pelayanan yang telah ditentukan.

b.  Seseorang harus bekerja maksimal ketika ia telah menerima gaji secara penuh. Ia dicela apabila tidak memberi kerja yang baik dan optimal.

c.  Dalam Islam kerja merupakan ibadah sehingga memberikan implikasi pada seseorang untuk bekerja secara wajar dan profesional. yang paling konstruktif dalam mempercepat pertumbuhan yang berkeadilan adalah dengan membuat masyarakat dan individu untuk mampu semaksimal mungkin mengunakan daya kreasi dan artistiknya secara profesional, produktif dan efisien.

Dengan demikian, semangat entrepreneurship (kewirausahaaan) dan harus ditumbuhkan dan dibangun dalam jiwa masyarakat.

E.     Teknologi

                  Faktor yang ketiga adalah teknologi dan inovasi. Technological progress disadari merupakan faktor yang dapat mengakselarasi pertumbuhan ekonomi. Teknologi akan melahirkan efisiensi, dan basis teknologi ini adalah inovasi. Karena itu, inovasi menjadi suatu kebutuhan yang perlu didesain secara serius oleh pemerintah. Islam adalah ajaran agama yang memerintahkan umatnya untuk senantiasa inovatif.

                  Para ekonom menyatakan bahwa kemajuan teknologi merupakan sumber terpenting pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dianggap tidak mengikuti proses sejarah secara gradual, tidak terjadi terus menerus dalam suatu keadaan yang tidak bisa ditentukan. Pertumbuhan teknologi di dalam pertumbuhan ekonomi modern menurut kuznets ada lima kategori yaitu penemuan ilmiah atau penyempurnaan pengetahuan teknik, invensi, inovasi, penyempurnaan dan penyebarluasan penemuan yang biasa diikuti dengan penyempurnaan.

                  Kuznets menganggap inovasi (pembaharuan) sebagai faktor teknologi yang berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi. Inovasi terbagi dua macam: pertama, penurunan biaya yang tidak menghasilkan perubahan pada apapun pada kualitas produk kedua, pembahruan yang menciptakan suatu produk baru dan menciptakan suatu permintaan baru akan produk tersebut. Yang kedua ini merupakan perubahan yang menciptakan permintaan.

F.     Pembangunan Sektor Pendidikan

                  Sektor pendidikan inilah yang akan memproduksi SDM negara, yang akan membawa negara tersebut apakah ke-arah yang lebih baik dimasa depan, atau sebaliknya malah memperburuk kondisi negara untuk masa akan datangnya. Tujuan pendidikan dalam Islam menurut Omar M Al Tauny (1979) sebagai berikut:

1.  Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Dengan demikian maka akhlakul karimah merupakan jiwa dari setiap pendidikan Islam.

2.  Untuk mempersiapkan anak didik menghadapi kehidupan di dunia dan akhirat secara sekaligus.

3.  Untuk memperkuat anak didik memelihara ruh ilmiah (scientific spirit) dan keinginan untuk terus mencari dan menemukan sesuatu (curiosty).

4.  Mempersiapkan anak didik agar menguasai suatu keahlian tertentu, keahlian yang mereka minati tersebut disesuaikan dengan suatu bakat dan kemampuannya.

5.  Mempersiapkan anak didik untuk memiliki tanggung jawab dalam hidupnya sebagai hamba Allah Swt dan sebagai makhluk sosial.

6.  Mengajak anak didik dalam memahami hikmah (rahasia) dari penciptaan alam semesta dan upaya memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

G.    Pembangunan Ekonomi Meningkatkan Kesejahteraan

                  Istilah pertumbuhan ekonomi berarti kenaikan produk nasional bruto di suatu negara. Pertumbuhan eksponensial merupakan penigkatan yang diperlihatkan melalui persentase tetap terhadap keseluruhan pada suatu waktu tertentu. Pertumbuhan ekonomi sering dipersentasikan oleh pertumbuhan PDB, produk nasional bruto (PNB), PDB perkapita dan pendapatan perkapita. persentase pertumbuhan ekonomi mulai menampakkan indikasinya terkait dengan berapa jumlah lapangan kerja yang tersedia, serta berapa tingkat produksi di suatu negara. Secara konvensional telah dikembangkan suatu indeks yang sering dijadikan proksi pertumbuhan ekonomi terutama pada sektor riil yaitu industrial production index (IPI).

                  Dalam kontek surat QS. 106: 1-4 konsep kesejahteraan ini memiliki empat indikator utama. Pertama, sistem nilai Islami kedua, kekuatan ekonomi disektor riil (industri dan perdagangan) ketiga, pemenuhan kebutuhan dasar dan sistem distribusi keempat, keamanan dan ketertiban sosial. Dalam pandangan ajaran Islam Jalan untuk menegakkan kedaulatan ekonomi ini, tidak lain adalah melalui kebijakan ekonomi yang berbasis pada konsep kemaslahatan.

                  Kemaslahatan akan tercapai ketika yang muncul dari sebuah proses adalah kemanfaatan dan keberkahan. Kegiatan ekonomi dalam Islam bersifat pengabdian Pekerjaan apapun yang dilakukan oleh muslim, baik itu pekerjaan ekonomi ataupun bukan bisa berubah dari pekerjaan material biasa menjadi ibadah yang berpahala apabila orang muslim tadi dalam pekerjaannya bermaksud mencari keridhoan Allah Swt. Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Dalam lingkungan ekonomi Islam ditanamkan pengawasan hati nurani yang terbina atas keyakinan akan adanya Allah Swt dan perhitungan hari akhir. Ekonomi Islam merealisasikan keseimbangan antara kepentingan Individu dan Kepentingan Masyarakat.

                  Dengan kata lain cita-cita ekonomi Islam bukanlah menciptakan persaingan, monopoli, atau mementingkan diri sendiri dengan mengumpulkan semua harta kekayaan dunia dan mencegahnya dari orang lain. Cita-cita ekonomi Islam merealisasikan kekayaan, kesejahteraan hidup, dan keuntungan hidup bagi seluruh masyarakat disertai niat melaksanakan dan mematuhi perintah Allah Swt. Pembangunan ekonomi menurut ekonomi Islam memiliki dasar-dasar filosofis yang berbeda, yaitu :

(1) Tauhid rububiyah, yaitu konsep ini mengajarkan bahwa Allah adalah sang pencipta atas segala sesuatu. Dia-Lah yang menciptakan dunia dan alam. Untuk manusialah yang selanjutnya mengatur model pembangunan yang berdasarkan Islam.

(2) Keadilan, yaitu pembangunan ekonomi yang merata (growth with equity),

(3) Khalifah, yang menyatakan bahwa manusia adalah wakil Allah Swt. di muka bumi untuk memakmurkan dan bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya yang diamanahkan kepadanya.

(4) Tazkiyah, yaitu mensucikan manusia dalam hubungannya dengan Allah., sesamanya dan alam lingkungan, masyarakat dan negara.

                  Adapun prinsip pembangunan ekonomi perspektif Islam antara lain:

(a) Pembangunan ekonomi dalam Islam bersifat komprehensif dan mengandung unsur spiritual, moral, dan material.

(b) Fokus utama pembangunan adalah manusia dengan lingkungan kulturalnya.

(c)  Pembangunan ekonomi adalah aktivitas multidimensional sehingga semua usaha harus diserahkan pada keseimbangan berbagai faktor dan tidak menimbulkan ketimpangan.

(d) Penekanan utama dalam pembangunan menurut Islam, terletak pada pemanfaatan sumber daya yang telah diberikan Allah kepada ummat manusia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PEMBANGUNAN EKONOMI PERSPEKTIF ISLAM"

Posting Komentar