PERSOALAN FILSAFAT

 PERSOALAN FILSAFAT

 

A.    Pengertian Filsafat

                  Untuk itu, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan filsafat. Secara singkat dan sederhana yang dimaksud filsafat adalah :  seluruh pandangan manusia terhadap dunia keseluruhanya baik alam maupun pikiran. Dengan kata lain, belajar filsafat berarti belajar tentang dasar atau pangkal pandangan kita terhadap gejala-gejala alam, masyarakat dan pikiran. Setiap manusia mempunyai pandangan–pandangan tertentu misalnya, tentang alam. Ada  orang yang berpendapat bahwa manusia bukan hanya tidak bisa mengubah alam tetapi malah dikuasai alam. Akibat pandangan itu maka manusia menyembah dan memohon kepada alam: batu-batu, pohon-pohon tertentu, gunung dan sebagainya, disembah, diberi sajian korban dan sebagainya.

                  Tetapi ada pula orang yang berpendirian bahwa, alam itu bisa dikenal dan dikuasai oleh manusia untuk kebahagiaan manusia. Misalnya, para sarjana di negeri-negeri Sosialis sedang dengan giat mempelajari ruang angkasa luar dan sistem planet hingga mereka telah berhasil memotret punggung bulan yang tak kelihatan, mengirimkan manusia untuk mengitari bumi, untuk mempelajari ruang angkasa luar dan keadaan planet-planet lainya dengan pengetahuan yang luas dan mendalam

                  Untuk lebih memudahkan kita memahami filsafat, marilah kita lihat contoh berikut ini. Si Amin, mempelajari sejarah Indonesia; dari hasil bacaannya ia mengetahui bahwa dahulu kala Indonesia tidak pernah dijajah, kemudian dijajah Imperialis Belanda dan sesudah itu oleh fasis Jepang. Selama penjajahan itu, rakyat Indonesia terus-menerus mengadakan perlawanan untuk menghancurkan kekuasaan kaum penjajah itu Kemudian pecah revolusi Agustus 1945 dan sekarang ini Indonesia adalah negara yang belum Merdeka penuh dan setengah feodal. Ia  menarik kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia ini Jadi, menurutnya sejarah masyarakat Indonesia terus mengalami perubahan, karena adanya  perjuangan yang terdapat dalam masyarakat itu.

                  Pendapat atau pandangan yang diajukan si Amin itu  adalah fikiran-fikiran filsafat dan ketika ia mengajukan pendapat atau pandangan maka ia sudah berfilsafat, sekalipun ia tidak mempelajarinya. Jadi, jelas bahwa filsafat itu erat hubunganya dengan kehidupan kita. Soalnya ialah, bagaimana kita memahami dan memiliki filsafat yang benar.                                     

B.     Filsafat Berwatak Ber-Kelas

                  Oleh karena filsafat tidak terpisah dari praktek kehidupan, maka dalam masyarakat berkelas dengan sendirinya filsafatpun berkelas juga, Dalam masyarakat berkelas ada filsafat kelas penghisap dan filsafat yang dihisap. Misalnya, dalam masyarakat kapitalis ada “filsafat borjuis” dan    ada  “filsafat proletar”.

1.  Filsafat Borjuis itu  mencerminkan kepentingan kelas  borjuis sehingga pandangan apapun yang diajukannya, intinya tetap merupakan pandangan yang mempertahankan kepentingan kelasnya. Misalnya, pandangan itu mau tidak mau membenarkan dan mempertahankan  penghisapan borjuasi atas kelas atau golongan-golongan lain dan untuk mencapai tujuan itu mereka tidak segan-segan memutarbalikkan keadaan yang sebenarnya, melakukan pemalsuan dsb. Maka itu filsafat tersebut memusuhi segala sesuatu yang maju, yang revolusioner : sebaliknya ia mempertahankan yang lapuk, yang reaksioner.

2.  Filsafat Proletar, mencerminkan hukum umum daripada perkembangan alam, masyarakat dan pikiran manusia. Hukum berlaku bagi masa lampau, masa kini dan masa depan. Dalam mencerminkan hukum-hukum itu, MDH menuturkan sebagaimana adanya, tanpa dibumbui sedikitpun. MDH dengan demikian adalah obyektip dan maka itu benar.

                  Dalam mengungkapkan kenyataan dalam masyarakat kapitalis, MDH menyimpulkan bahwa di dalam masyarakat kapitalis ada dua kelas pokok yang berlawanan kepentinganya yang menentukan arah perkembangan masyarakat itu yaitu “borjuasi dan proletariat”. Borjuasi  adalah kelas penghisap yang akan mengalami keruntuhanya, sedangkan ploretariat adalah masyarakat yang akan memikul tanggung jawab membangun suatu masyarakat baru, yakni masyarakat   tanpa kelas dimana tidak ada penindasan dan penghisapan manusia atas manusia lainnya. MDH karena objektif mau tidak mau berfihak kepada proletariat dan mengandung pandangan proletariat terhadap segala sesuatu.

                  Watak khas lainnya yang menonjol dari MDH ialah segi prakteknya, ia mengandung metode untuk mengubah segala sesuatu. MDH adalah suatu senjata teori atau moril bagi proletariat untuk mengubah sistem masyarakat lama, menghapuskan penghisapan manusia oleh manusia dan menciptakan dunia baru yaitu masyarakat tanpa kelas. Tegasnya,  MDH  dan proletariat adalah dua hal yang tidak dapat dipisah-pisahkan  dalam mewujutkan masyarakat tanpa kelas itu. Seperti yang ditegaskan oleh Marx, bahwa proletariat mendapatkan senjata morilnya pada mdh, sedangkan MDH mendapatkan senjata materiilnya pada proletariat.                               

C.    Mempelajari  MDH

                  Mempelajari filsafat MDH adalah sama dengan mempelajari teori-teori Marxisme yang lain,  yaitu dengan bersikap rendah hati, jujur dan sungguh-sungguh. Karena MDH adalah filsafat kelas proletar maka kita harus mempelajarinya secara proletar juga, bukan secara intelektualistis atau teori-teorian yang terlepas dari praktek. Dengan kata lain, mempelajari MDH harus dihubungkan dengan praktek.

D.    Perbedaan Idealisme dan Materialisme

                  Masalah terpokok dari segala persoalan filsafat adalah masalah hubungan antara keadaan (materi) dan fikiran (ide) : manakah yang ada lebih dahulu dan menentukan, keadaan atau pikiran? Untuk menjawab permasalahan ini, kita mesti mengetahui apa yang dimaksud dengan pikiran dan keadaan itu.

                  Yang dimaksud dengan keadaan dan materi ialah misalnya; batu dan tumbuh-tumbuhan, kejadian-kejadian di lingkungan kerja kita, di dalam negeri dan luar luar negeri, keadaan-keadaan sosial seperti kemiskinan, pengganguran, penghisapan dsb. Pada pokoknya, keadaan atau materi adalah segala sesuatu yang objektif ada di luar dan tak tergantung pada kesadaran kita. Sedangkan yang dimaksud dengan fikiran atau ide ialah misalnya; kesadaran, akal, perasaan, kemauan politik, rencana, pendapat, pengertian dan dsb nya tentang sesuatu materi. Ia (ide) merupakan gambaran tentang suatu materi di dalam otak atau fikiran kita. Dengan kata lain, pandangan atau fikiran dan cara menerangkan atau memahamkan bahwa segala sesuatu itu bertolak dari fikiran atau ide itu  adalah idealisme.

                  Idealisme berpendapat bahwa ide itu primer atau menentukan sedangkan materi sekunder atau ditentukan. Misalnya, seorang gerakan mahasiswa atau gerakan buruh-tani jika dalam menyusun tuntutan bagi massa yang dipimpinya tidak bertolak dari kebutuhan kongkrit massa itu sendiri (materi) melainkan bertolak dari keinginan dirinya sendiri, dari pendapat atau kesimpulanya sendiri (ide) maka dia berpandangan idealisme. Contoh lain, dalam menjelaskan kejadian-kejadian di dalam alam atau masyarakat ini, seperti : banjir,  kemiskinan yang mencolok, tentara yang represif, sebagai sesuatu yang disebabkan oleh kekuatan gaib atau oleh takdir.

                  Sebaliknya pandangan atau pokok pikiran atau cara menerangkan atau memahamkan bahwa segala sesuatu kejadian atau peristiwa itu bertolak dari keadaan kongkrit, dari materi adalah materialisme. Jadi, materialisme adalah pandangan dunia yang bertolak dari kenyataan objektif. Misalnya, di dalam masyarakat terdapat keadaan sebagai berikut : pengangguran merajarela, sulit mendapatkan sandang pangan, nilai mata uang rupiah merosot tajam terhadap dollar AS, kapasitas produksi mundur atau macet dsb. Melihat kenyataan itu, maka dalam fikiran kita  akan tergambar hal-hal itu dan menyimpulkan bahwa, menurut kenyataanya kapitalisme dan imperialisme telah mengekploitasi bangsa Indonesia.

                  Dengan lain perkataan, untuk menjadi seorang materialis, ide kita merupakan gambaran atau pencerminan dari  materi yang bersangkutan. Karena materi itu suatu yang rumit, bersegi banyak terutama masyarakat manusia, maka dalam mencerminkan suatu materi itu kita harus berhati-hati  dan bersikap tepat. Kita harus mencerminkanya menurut kerumitanya itu atau menurut banyak kesegianya itu jika tidak, maka kita akan terkena penyakit subjektivisme. Inilah yang dimaksud oleh seorang revolusioner bahwa : "jika seorang tidak mengetahui bahwa pendapat yang tepat itu tidak lain daripada pencerminan yang objektif yang meliputi segala sudut kenyataan, dan bertindak menurut keinginanya yang subjektif dan berat sebelah maka, dia tetap akan membikin kesalahan yang besar atau kecil sungguhpun segala motifnya mengandung maksud yang baik".  Karena itu untuk mengelakan kesalahan, kita harus tepat membedakan mana yang benar mana yang salah. Maka itu pencerminan yang tidak menyeluruh yang menurut keinginan subjektif menambahkan atau mengurangi sesuatu pada kenyataan objektif itu adalah bertentangan dengan materialisme. Misalnya, dalam penyelidikan di desa penggolongan kaum tani dilakukan tidak berdasarkan kedudukannya dalam hubungan-hubungan produksi secara keseluruhanya tetapi pada hubungan-hubungan seperti pada, hubungan kekeluargaan, konco atau pada besar kecil penghasilannya saja. Contoh lain, dalam menyusun plan/rencana tiga tahun tidak diadakan penyelidikan yang kongkrit tentang syarat–syarat materiil pelaksanaan plan itu, tidak diselidiki keadaan para siswa tempat belajar guru, persediaan makanan ataupun hal-hal lain yang bisa mendorong atau merintangi suatu jatah yang terlalu tinggi atau yang terlalu rendah.

                  Dari penjelasan singkat tentang arti serta perbedaan antara materialisme dan idealisme itu, kita bisa semakin mudah memahami, menganalisis dan membimbing praktek revolusioner kita. Penjelasan ini penting mengingat masih banyak yang memahami dan menafsirkan pengertian materialisme dan idealisme dalam filsafat secara tidak tepat yaitu,  antara lain menurut pengertian moral. Menurut mereka seorang materialis adalah orang yang mengutamakan atau menjunjung tinggi kebendaan atau keduniawian, sehingga tidak mempunyai cita-cita yang luhur dan tidak bermoral tinggi. Segala sesuatunya diukur atau dinilai berdasarkan materi atau benda. Sebaliknya, seorang idealis adalah orang yang mengejar cita-cita luhur, bermoral halus,  sederhana dalam kenikmatan materiil, rela berkorban untuk kepentingan umum dan sebagainya.    

                  Pengertian yang semacam ini jelas sangat keliru. Seorang materialis dalam filsafat, dalam memandang alam, masyarakat dan fikiran menempatkan materi pada kedudukan yang menentukan dan sentral, sedangkan ide pada kedudukan yang ditentukan. Jadi, materi dalam pandangan filsafat tidak semata-mata benda : uang, mobil, rumah mewah dsb. Ini sih, materialisme vulgar. Bahkan,  jika ditinjau dari segi “moral”, kenyataan telah menunjukan bahwa kita (aktivis PRD) yang menganut paham materilisme ini adalah yang paling bermoral. Kita bukannya congkak, tapi lihatlah pengorbanan kawan-kawan kita : diintimidasi, difitnah, dipenjara, diculik, dan dibunuh oleh rezim Orba, karena kita memperjuangkan demokrasi sejati di negeri ini. Dalam berjuang itu, kita sedikitpun tidak mengindahkan soal materi : uang dan jabatan. Keinginan kita cuma satu : agar rakyat kembali memiliki kedaulatannya yang sejati, agar tidak ada lagi penindasan manusia atas manusia.                                      

E.     Hubungan Praktek Dengan Pengetahuan       

                  Menurut pengertian MDH, tujuan kita dalam mempelajari pengetahuan (teori) agar bisa membimbing praktek. Seorang yang berpikir MDH tidak akan berhenti pada diskusi-diskusi teoritis, ia belajar teori bukan demi teori itu sendiri, tetapi yang lebih penting ia harus berpraktek. Seorang yang belajar MDH, akan menganggap bahwa pengetahuan hanya akan berguna sepanjang pengetahuan itu bisa diterapkan ke dalam praktek sehingga bisa diuji kebenarannya. Bahkan, ia harus menekankan dalam-dalam pada pikirannya, bahwa praktek lebih tinggi dari pada teori karena ia tidak hanya mengandung nilai-nilai yang umum, tetapi nilai realitas yang langsung. Karena itu, penting sekali buat kita untuk mengetahui bagaimana hubungan antara teori dan praktek itu.

                  Pengetahuan (teori) manusia adalah pencerminan tentang kenyataan yang objektif (materi). Untuk bisa mencerminkan sesuatu materi manusia harus mengadakan hubungan dengan materi yang bersangkutan, dan hubungan itu dilakukan dengan praktek. Lewat praktek itulah nanti akan timbul pengetahuan (teori) tentang materi itu dalam fikiran kita. Misalkan, jika kita ingin memiliki pengetahuan-tentang buruh, maka kita harus turun ke pabrik-pabrik, bekerja dan hidup ditengah-tengah kaum buruh. Hanya dengan demikian barulah kita memiliki pengetahuan yang tepat tentang buruh itu.

                  Yang dimaksud dengan praktek adalah praktek sosial manusia. Praktek sosial manusia meskipun banyak seginya tetapi pada hakekatnya, adalah praktek produksi dan praktek perjuangan kelas. Dalam praktek produksi, manusia melakukan praktek melalui perjuangan alam, mengubah alam untuk disesuaikan dengan kebutuhannya. Dalam praktek perjuangan kelas manusia melakukan perjuangan di dalam masyarakat untuk memajukan hubungan-hubungan produksi. Lewat perjuangan melawan alam, manusia memahami dan mengenal gejala-gejala serta hakekat alam dan akhirnya melahirkan teori tentang hukum-hukum alam. Lewat perjuangan kelas, manusia mengenal gejala-gejala serta hakekat masyarakat dan akhirnya melahirkan teori tentang hukum masyarakat.

                  Jadi, praktek adalah sumber pengetahuan, praktek melahirkan teori. Atau dengan kata lain, pengetahuan adalah hasil proses perkembangan praktek sosial manusia. Misalnya, untuk bisa merumuskan teori tentang revolusi Indonesia, kita harus melakukan perjuangan kelas di dalam masyarakat Indonesia; kita mesti mengetahui dan mengenali, siapa tenaga penggeraknya, siapa musuhnya dsb. Misal lain, kita tidak akan mungkin mengetahui keadaan kaum buruh jika kita tidak mengadakan kontak-kontak dengan kaum buruh. Persoalan lain, bagaimana kita tahu bahwa pengetahuan kita itu benar atau salah? Satu-satunya jalan adalah, mengujinya kembali pada materi yang bersangkutan lewat praktek. Jika lewat praktek kesimpulan kita mengenai materi itu adalah sesuai dengan keadaan yang sesunguhnya dari materi itu atau hasil yang kita harapkan sesuai dengan pengetahuan kita tentang materi itu maka dapat dipastikan, bahwa pengetahuan kita tentang materi itu adalah benar. Tetapi, jika tidak maka pengetahuan kita tidak benar atau kurang lengkap. Misalnya, kita simpulkan bahwa gerakan mahasiswa merupakan pelopor (vanguard) dari gerakan rakyat, jika dalam prakteknya, ciri-ciri gerakan vanguard itu kita temukan di lapangan.

                  Jika pengetahuan itu sudah benar apakah ia berhenti disitu saja? Tentu saja tidak. Materi,  seperti yang akan kita lihat nanti, senantiasa mengalami gerak. Maka dari itu pengetahuan kita tentang materi itu harus berkembang sedemikian rupa. Kalau tidak, maka pengetahuan  dan perjuangan kita untuk membebaskan rakyat tertindas akan mengalam kebuntuan. Demikianlah, proses pengetahuan itu berlangsung terus, dari proses pencerminan ke proses pengujian, dan kemudian ke proses pencerminan dan pengunjian lagi dengan tiada akhirnya. Atau seperti yang dikatakan oleh seorang revolusioner: "pengetahuan mulai dengan praktek, mencapai bidang teori melalui praktek, dan kemudian harus kembali lagi ke praktek".

                  Praktek ada dua macam, yaitu praktek langsung dan praktek tidak langsung.Yang dimaksud dengan praktek langsung ialah praktek yang langsung kita alami sendiri, sedangkan praktek tidak langsung ialah praktek orang lain yang dapat kita ketahui dengan membaca tulisan atau keterangan-keterangan lisan orang itu. Misalnya, untuk mengetahui hukum-hukum revolusi Indonesia kita ikut langsung dalam revolusi Indonesia (praktek langsung) atau membaca tulisan-tulisan atau mendengarkan uraian lisan tentang revolusi Indonesia (praktek tidak langsung). Antara kedua praktek itu, yang terpenting ialah praktek langsung. Pengetahuan yang kita peroleh dari praktek penyelidikan langsung oleh kita sendiri, jauh lebih baik daripada pengetahuan yang kita dapat dari buku mana saja. Keuntungan lain dari praktek langsung adalah, jika hasil penyelidikan kita benar tentu sangat baik tetapi, jika ada kawan-kawan yang membikin kesalahan dalam penyelidikan praktek, maka hal itu akan lebih mudah diperbaiki karena materinya telah tersedia. Namun demikian, tidak berarti praktek tidak langsung menjadi tidak penting. Praktek tidak langsung penting karena, kita sebagai perorangan dibatasi oleh jasmani, umur maupun tempat dimana kita bisa mengadakan praktek langsung. Misalnya, kita tidak mungkin mengalami langsung praktek perbudakan, feodalisme dan lahirnya kapitalisme di Barat karena kita pada waktu itu belum lahir. Tetapi praktek rakyat pada waktu itu dapat kita pelajari dan ketahui dari membaca tulisan orang. Di zaman itu, orang-orang yang melakukan praktek langsung sedangkan kita yang berada disuatu daerah di Indonesia tidak mungkin mengalami praktek langsung.

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PERSOALAN FILSAFAT"

Posting Komentar