METODE BERPIKIR

 METODE BERPIKIR

A.    Tentang Logika

                  Sebelum kita melangkah lebih lanjut kepembahasan soal metode berpikir MDH, ada baiknya kita mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan logika dan cabang-cabangnya. Logika adalah suatu ilmu yang mempelajari proses pikiran. Dengan demikian, para ahli logika menyelidiki akivitas proses pikiran  yang berlangsung di dalam kepala manusia dan merumuskan hukum-hukum, bentuk-bentuk dan interelasi (saling hubungan) dari proses-proses mental tersebut.

                  Ada dua tipe utama dari logika, yakni logika  formal dan logika dialektik. Logika formal, sejarahnya bisa diurut hingga ke jaman Yunani kuno dan mencapai puncaknya pada pemikiran Aristoteles. Selama hampir 200 tahun, logika formal tidak mampu digoyahkan, sampai muncul logika tandingannya, yakni logika dialektik  yang dirumuskan oleh Hegel. Logika dialektik yang dirumuskan oleh Hegel ini, kemudian disempurnakan atau dimaterialkan oleh Marx. Kita akan membahas hukum-hukum dari logika formal, setelah itu kita akan memfokuskan diri pada penguraian tentang MDH.

 

B.     Hukum Dasar dari Logika Formal

            Ada tiga hukum fundamental dari logika formal:

1.  Identitas. Hukum ini bisa dinyatakan dalam berbagai cara seperti: Suatu benda selalu sama atau identik dengan dirinya. dalam istilah aljabar: A sama dengan A. Formulasi khusus dari hukum ini tak begitu penting sewaktu ide terlibat. Pemikiran esensial tercakup dalam hukum identitias. Hukum ini mengatakan, bahwa suatu benda selalu sama terhadap dirinya dan adalah sama juga menilai, bahwa di bawah semua kondisi ia tetap satu dan sama. Suatu benda yang ada berada secara absolut pada setiap momen yang ada. Seperti ahli fisis katakan: "Materi tak bisa diciptakan dan dihancurkan," contohnya, materi selalu menjadi materi.

           Penilaian yang tak kondisional  dari hukum identitas absolut dari suatu benda dengan dirinya sendiri, menimbulkan perbedaan dari esensi benda-benda dan pikiran. Bila suatu benda selalu dan dalam semua kondisi sama atau identik dengan dirinya, tak pernah bisa tidak sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan ini  mengambil secara logis dan tak terhindarkan dari hukum identitas. Bila A selalu sama dengan A, tak bisa pernah sama dengan non-A.

2.  Hukum Kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan: A adalah bukan non-A. Ini tak lebih dari formulasi negatif dari penilaian positif yang dinyatakan dalam hukum yang pertama dari logika formal. Bila A adalah A, berikutnya, menurut pemikiran formal, bahwa A tak bisa menjadi non-A. Jadi Hukum logika formal kedua, hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial bagi hukum yang pertama.

           Beberapa contoh: seorang manusia tak bisa menjadi bukan manusia; demokrasi tak bisa menjadi tidak demokrasi; seorang buruh tak bisa menjadi seorang bukan buruh. Hukum kontradiksi menyiratkan hasil perbedaan dari esensi benda-benda dan pikiran tentang benda-benda. Bila  A selalu perlu identik dengan dirinya, tak bisa berbeda dari dirinya. Perbedaan dan persamaam adalah, menurut dua aturan logika ini, berbeda sekali, benar-benar tak berhubungan, karakter ekslusif saling menunjang dari baik benda-benda maupun pikiran-pikiran.

           Ijinkan aku menempatkan suatu contoh menarik dari jenis pemikiran ini yang berasal dari tulisan-tulisan Aristoteles. Di dalam Posterior Abalytics (Buku I; bab 33, hal, 158), Aristoteles berkata, bahwa seseorang tak bisa secara simultan memahaminya, bahwa manusia secara esensial adalah binatang- dan kedua, bahwa manusia secara esensial bukan binatang, itulah, mungkin menganggap bahwa dia lain daripada binatang. Begitulah, seorang manusia secara esensial adalah seorang manusia dan tak pernah bisa atau berpikir tak menjadi seorang manusia. 

           Ini pasti tentulah  menurut  diktat dari hukum logika formal. Kini kita semua tahu ternyata bertentangan dengan fakta. Teori evolusi alam mengajarkan bahwa  manusia secara esensial adalah binatang dan tak bisa lain daripada binatang. Secara logis berbicara, manusia adalah seekor binatang. Namun kita tahu juga dari teori evolusi sosial, yang merupakan kelanjutan dan perkembangan dari evolusi binatang secara murni, bahwa manusia tak lebih dari  dan lain dari seekor binatang. Dengan kata lain dia secara esensial bukan seekor binatang melainkan manusia, yang merupakan spesies mkhluk hidup yang sangat berbeda dari semua binatang lainnya. Kita tahu bahwa kita, dua benda ekslusif yang saling bergantung pada satu dan saat yang sama.

3.  Hukum Pertengahan Khusus. Menurut hukum ini, setiap benda adalah dan pasti juga salah satu dari dua benda-benda ekslusif. Bila A sama dengan A,  ia tak bisa sama dengan non-A. A tak bisa jadi bagian dari dua klas yang berlawanan pada satu atau saat yang sama. Dimana saja dua pernyataan yang saling berlawanan atauhubungan bermusuhan satu sama lain, baik itu mungkin benar atau juga salah. A adalah juga B atau ia bukan B. Kebenaran dari suatu pendapat  menyiratkan ketidakbenaran kebalikannya. Hukum ketiga ini adalah suatu kombinasi dari dua pertama dan mengalir secara logis dari mereka.

                 Ketiga hukum ini  merupakan basis dari logika formal. Semua jawaban-jawaban formal dihasilkan dari aturan atau dari proposisi-proposisi ini. Selama dua ratus tahun mereka  merupakan aksioma tak terbantahkan dari sistim pikiran  Aristoteles, hanya sebagai logika formal sebaliknya tak kokoh berdiri.

C.    Materialisme Dialektik

                  Materialisme dialetik adalah sebuah metode berpikir yang memperlajari sebab-sebab terjadinya penindasan manusia atas manusia dan bertujuan untuk mengubah dunia yang menindas itu. Ia dinamakan materialisme dialetik sebab, metodenya dalam mendekati gejala-gejala alam, metodenya dalam memahami dan mempelajari gejala-gejala itu adalah dialektik, sedangkan keterangannya (interprestasi) mengenai gejala-gejala alam pengertian dari gejala-gejala ini teorinya adalah materialis. Dari keterangan ini jelaslah, bahwa  dialektika adalah suatu metode untuk mengenal dan mengubah kenyataan objektif. Metode dialektik berbeda dengan metode metafisik, karena metode ini berdasarkan hukum-hukum yang berlaku di dalam kenyataan objektif itu sendiri. Hukum-hukum objektif dialektik itu dapat dirumuskan dalam 4 pokok sbb : 

1.      Asas Gerak

           Pertanyaannya,  apakah yang menyebabkan segala sesuatu itu bergerak? Seperti yang telah kita bahas pada bagian di atas, ada dua pendapat yang menyebabkan segala sesuatu itu bergerak dan berubah. Yang pertama adalah idealisme, yang menyatakan bahwa  jika sesuatu itu berubah maka ia diubah oleh kekuatan ide yang berada di luar materi yang bersangkutan atau di luar dunia materiil. Yang kedua, adalah dialektika materialis yang berpendirian bahwa materi itu bergerak karena kekuatan yang terkandung di dalam materi itu sendiri. Kekuatan itu disebut SEBAB DALAM dari gerak materi itu. Misalnya, revolusi Indonesia mencapai kemajuan- kemajuan. Apa yang menjadi sebab kemajuan kemajuan itu? Yang menjadi sebabnya adalah kekuatan-kekuatan yang terkandung didalam masarakat Indonesia  itu sendiri, yaitu klas-klas yang ada didalamnya serta saling hubungan di antara klas-klas itu. Revolusi Indonesia mencapai kemajuan-kemajuan bukan karena takdir, bukan pula karena hasutan dan desakan luar negeri.

           Pengaruh faktor luar sudah tentu ada, tetapi tidak menentukan. Pengaruh itu ada artinya, jika di dalam sesuatu itu ada faktor dalam yang menampung faktor luar tersebut. Jika faktor dalam itu tidak mampu, maka pengaruh itu tidak akan ada. Ambil contoh telor ayam tadi. Untuk menetaskan telor menjadi anak ayam membutuhkan suhu tertentu (faktor luar) tetapi, suhu itu tidak akan ada artinya jika telor itu bukan telor bibit atau telor itu busuk. Contoh lainya, bagaimana menguntungkannya situasi dunia Internasional sebagai faktor luar dalam membangun demokrasi sejati, tetapi jika kekuatan–kekuatan prodemokrasi di dalam negeri tidak  solid, tidak punya organisasi yang terpimpin, tidak punya strategi-taktik yang jitu dan tidak punya program yang tepat, maka gerakan prodemokrasi itu tidak akan bisa mencapai hasil yang maksimal. Tegasnya, faktor luar itu memainkan peranan yang penting bagi gerak suatu materi, tetapi yang menentukan adalah faktor dalam. Faktor luar itu hanya bisa memberikan pengaruhnya lewat sebab dalam itu sendiri. Faktor luar itu disebut juga syarat luar dari gerak materi.

           Sesuai dengan asas dialetika objektif ini, maka metode kita dalam memahami dan mengubah kenyataan objektif haruslah bertolak dari sebab dalam itu sendiri; dari gerak, saling hubungannnya dan kontradiksinya.

2.      Asas Saling Hubungan (Interelasi)

           Kaum metafisika (idealisme) perpendapat bahwa, segala sesuatu itu berdiri sendiri-sendiri, tidak mempunyai hubungan satu sama lain atau tidak mempunyai saling hubungan. Sebaliknya, asas   dialetika menyatakan dan memang demikianlah kenyataanya bahwa, segala sesuatu itu tidak berdiri sendiri–sendiri, tetapi mempunyai saling hubungan. Hal yang satu mempengaruhi atau menentukan hal yang lain dan sebaliknya. Saling hubungan itu terdapat di dalam bagian-bagian di dalam sesuatu dan antara hal yang satu dengan hal yang lain saling hubungan itu terdapat pula antara masa lampau dan masa kini serta dengan masa depan.

           Misalnya, dalam masyarakat Indonesia terdapat saling hubungan di antara kelas yang ada didalamnya, dimana yang satu mempengaruhi dan menentukan yang lain. Contoh lain, keadaan di kita yang terbelenggu oleh sistem kapitalis-militeris saat ini tidak terlepas dari keadaan masa yang lalu : keadaan yang sekarang akan menentukan dimasa depan.

           Saling hubungan adalah saling hubungan yang secara objektif ada didalam kenyataan, ia adalah sesuatu yang diada-adakan atau yang dikira-kirakan oleh manusia secara subjektif. Misalnya, ada saling hubungan secara objektif antara watak seseorang dengan keadaan sosialnya, tetapi tidak ada saling hubungan dengan namanya. Contoh lain: ada saling hubungan  antara krisis ekonomi kapitalis dengan sistem ekonomi yang berdasarkan hak milik perorangan kapitalis atas alat-alat produksi tetapi, tidak ada saling hubungan dengan bintik-bintik matahari. Jika sesuatu mengandung lebih pada satu hubunganya maka satu di antara saling hubungan itu adalah saling hubungan pokok. Saling hubungan pokok ini peranannya menentukan di antara saling hubungan-hubungan lainnya. Saling hubungan bukan pokok, bersifat tidak menentukan tetapi mempengaruhi. Misalnya, terdapat hubungan antara kaum tani  dengan tuan tanah dengan proletariat dengan borjuasi dsbnya. Saling hubungan pokoknya ialah, saling hubungan  kaum tani itu dengan tuan tanah.

3.      Asas Perubahan Dari Kuantitas Ke Kualitas

           Asas ini mengunkapkan bentuk-bentuk yang ditempuh oleh setiap materi dalam proses gerak atau perkembanganya dan dengan demikian mengariskan arah gerak atau perkembanganya. Apa yang dimaksud dengan kualitas itu? Kualitas adalah, seluruh ciri atau sifat yang terkandung di dalam sesuatu yang memberikan kepastian pada sesuatu itu.

           Untuk mengetahui kualitasnya kita mengungkapkan antara lain, hubungan kemasyarakatan yang terdapat di dalam kedua sisterm di masyarakat terutama, hubungan produksinya. Seorang anggota partai adalah hal yang lain yang berbeda dari seorang yang bukan anggota partai. Perbedaan ini karena kualitas yang terkandung di dalam kedua hal itu, yakni perbedaan dalam ideologinya, politiknya, dan  moralnya.

           Sekarang, apa yang dimaksud dengan kuantitas? Kuantitas adalah, jumlah dalam arti kata yang seluas-luasnya yaitu : banyak-sedikit, besar-kecil, luas-sempit, lama-sebentar. Dsbnya. Jadi, pengertian kuantitas disini, tidak terbatas pada bilangan saja. Kualitas dan kuantitas, terdapat bersama-sama dalam setiap hal. Atau dengan kata lain, setiap hal itu mengandung kualitas dan kuantitas tertentu. Kesatuan dari kedua unsur itulah yang menetapkan sesuatu itu. Misalnya, penanaman modal asing di negeri ini, besar kecinya berpengaruh disegala bidang kehidupan sosial, atau luas tanah yang berpusat di dalam tangan tuan tanah dsbnya. Lalu, apakah yang dimaksud dengan perubahan kuantitas ke perubahan kualitas? Adalah perubahan yang bersifat penambahan  atau pengurangan yang tidak membawa perubahan pada ciri dasar kualitas. Misanya, seorang anggota partai sebelum dia mengajukan permintaan atau diterima sebagai calon anggota telah mengalami perubahan-perubahan kuantitatif yakni,  semakin banyak pengalaman revolusionernya semakin makin tebal kesadaran kelasnya, makin tinggi kesadaran politiknya dan makin mengenal perjuangan dan cita-cita partai maka, makin yakin akan kebenaran konstitusi dan program partai. Contoh lain, air ketika dimasak dalam proses pemanasan dan sebelum air itu berubah menjadi uap, terjadilah perubahan-perubahan kuantitatif yaitu perubahan pada hubungan intern molekul-molekul air itu dsbnya.

           Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perubahan itu berlangsung dari perubahan kuantitatif (evolusioner) ke perubahan kualitatif (revolusioner), dari yang kecil-kecil menunju ke yang besar, dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Kedua hal ini tidak boleh dipertentangkan atau dikontradiksikan, keduanya berhubungan erat dan sejiwa.

4.      Asas Kontradiksi

           Asas dialektika yang ke empat adalah asas kontradiksi. Asas ini merupakan asas dialektika yang terpenting karena ia mengungkapkan lebih lanjut apa yang menyebabkan sesuatu itu bergerak. Dalam dialektika materialis kontradiksi mengandung arti yang luas, yang tidak terbatas pada pertentangan saja tetapi mencakup juga perbedaan yang sekecil-kecilnya.  Misalnya, perbedaan pendapat antara si A  dan si B mengenai hal yang remeh sekalipun adalah kontradiksi.

           Kontradiksi terjadi apabila ada dua hal atau dua bagian dari suatu hal yang bertentangan atau berbeda. Dua hal atau dua bagian sesuatu itu disebut segi-segi atau aspek aspek kontradiksi, misalnya, antara rakyat dan Dwifungsi ABRI dimana kedua hal itu terdapat kontradiksi. Rakyat adalah salah satu aspek atau segi kontradiksi itu sedangkan Dwifungsi ABRI adalah segi atau aspek yang lain. Contoh lain,  antara pendapat ”ya, dan tidak“ mengenai sesuatu persoalan juga adalah konntradiksi. Pendapat " ya” adalah salah satu kontradiksi itu sedangkan pendapat "tidak” adalah segi lainya.

5.      Keumuman Dan Keumuman Kontradiksi

           Di dalam masyarakat yang berkelas terdapat kontradiksi kelas, didalam alam organik terdapat kontradiksi antara sel yang tumbuh dengan sel yang akan mati, di dalam fikiran terdapat yang salah dengan yang benar, yang kolot dengan yang baru. Disamping itu keumuman kontradiksi berarti juga kontradiksi itu terdapat diseluruh proses perkembangan waktu, ia terdapat sejak awal hingga akhir proses itu. Misalnya, kontradiksi antara rakyat Indonesia dengan Imperialisme sejak Indonesia dijajah kaum Imperialis hingga Indonesia menjadi negeri yang merdeka.

           Namun, disamping segi keumumannya, kontradiksi juga mengandung segi kekhususannya. Maknanya, untuk mengenal gerak sesuatu yang kongkrit tidaklah cukup hanya mengetahui keumuman kontradiksinya saja, kita harus pula mengenal kontradiksi yang terdapat di dalam hal yang kongkrit itu, yang khusus itu. Lebih jelasnya, yang dimaksud dengan kekhususan kontradiksi bahwa, kontradiksi yang terdapat pada hal yang satu tidaklah sama dengan kontradiksi yang terdapat pada hal yang lain. setiap hal yang khusus mengandung hal yang kontradiksi yang khusus pula. atau kontradiksi-kontradiksinya sendiri-sendiri. Perbedaan itu dapat dilihat dari aspek–aspek yang berkontradiksi, kedudukan salah satu kontradiksi dsbnya. Misalnya, terdapat kontradiksi yang berbeda di kota dengan di desa, hal itu bisa dilihat dari: di desa terdapat kontradiksi yang menonjol antara kaum tani dengan tuan tanah sedangkan di kota antara kaum buruh dengan kaum borjuasi. Demikian juga di dalam masyarakat berkelas,  terdapat kontradiksi kelas sedangkan di dalam masyarakat sosialis, kontradiksi itu adalah antara pandangan yang benar dengan pandangan yang salah.

                       Karena pada hal yang berbeda atau pada tiap tingkat proses perkembangan sesuatu itu terdapat kontradiksi yang berbeda pula, yakni yang khusus, maka metode dalam memecahkan kontradiksi itu haruslah secara khusus pula. Metode pemecahan yang digunakan untuk menjawab kontradiksi yang satu tidak bisa digunakan untuk menjawab kontradiksi khusus yang lain, metode memecahkan kontradiksi yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia adalah tidak sama dengan yang digunakan dinegeri lain : metode memecahkan kontradiksi di kalangan rakyat berbeda dengan metode memecahkan kontradiksi antara rakyat dengan musuh rakyat : metode memecahkan kontradiksi di dalam pikiran seorang anggota partai juga berbeda dengan metode memecahkan kontradiksi di dalam pikiran seorang yang bukan anggota partai.

6.      Kontradiksi Pokok/kunci

           Kontradiksi yang menjadi kunci penyelesaian pada tingkat perkembangan itu disebut kontradiksi pokok, sedangkan kontradiksi-kontradiksi lainya adalah kontradiksi bukan pokok. Jika kontradiksi pokok itu sudah diselesaikan maka penyesaian terhadap kontradiksi bukan pokok atau kontradiksi-kontradiksi lainya akan lebih mudah diselesaikan. Konsekuensinya, kontradiksi pokok harus menjadi prioritas untuk ditangani, sedangkan kontradiksi bukan pokok penyelesaiannya bisa di nomorduakan atau bisa ditunda. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia saat ini di dalamnya terdapat kontradiksi-kontradiksi seperti antara rakyat Indonesia dengan Imperialisme dan feodalisme, antara kaum buruh dengan borjuasi nasional dan transnasional, antara kaum buruh dan kaum tani, antara rakyat sipil dengan Dwifungsi ABRI/TNI  dsbnya. Pertanyaan yang harus kita jawab lebih dahulu, kontradiksi mana yang menjadi kunci dalam menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi yang terkandung di dalam masyarakat Indonesia itu? Jika kita simpulkan bahwa kontradiksi pokoknya adalah rakyat sipil dan Dwifungsi ABRI/TNI, maka kontradiksi ini harus dipecahkan terlebih dahulu  sehingga kontradiksi yang lain akan lebih mudah diselesaikan. Sebaliknya, jika kita salah di dalam menentukan mana kontradiksi pokoknya, maka penyelesaian kontradiksi tidak akan membawa kita pada penyelesaian kontradiksi yang lebih maju atau lebih tinggi.

7.      Mutasi Kontradiksi

              Kesalahan di dalam mengenali dan mengetahui mana kontradiksi pokok dan mana kontradiksi bukan pokok, disamping akan menghambat pemecahan kontradiksi, juga dapat menyebabkan pengalihan atau pemutarbalikkan kontradiksi pokok dan bukan pokok. Pengalihan atau perubahan kontradiksi pokok menjadi kontradiksi bukan pokok atau sebaliknya, kontradiksi bukan pokok menjadi kontradiksi pokok, kita mutasi kontradiksi.

           Misalnya, kontradiksi pokok, kontradiksi yang tidak terdamaikan di dalam masyarakat Indonesia saat ini adalah antara rakyat sipil dengan Dwifungsi ABRI. Dwifungi ABRI menjadi musuh rakyat karena dengannya, tentara menjadi leluasa di dalam membungkam dan menumpas seluruh kekuatan rakyat yang berusaha mewujudkan keadilan dan demokrasi yang sejati. Karena itu, maka tuntutan pencabutan Dwifungsi ABRI harus menjadi program mendesak, harus menjadi prioritas bagi seluruh kaum prodemokrasi. Tetapi, tidak jarang kita temui bagaimana kelompok-kelompok reaksioner berusaha mengalihkan kontradiksi pokok ini ke masalah SARA, bahwa sumber kericuhan, sumber ketidakadilan itu disebabkan oleh dominasi minoritas non-muslim atas mayoritas muslim. Nah, perubahan dari isu Dwifungsi ABRI ke isu SARA itulah yang disebut MUTASI KONTRADIKSI.

8.      Segi-Segi Kontradiksi

           Di dalam mempelajari kekhususan kontradiksi, disamping mengetahui kontradiksi pokok dan bukan pokok, perlu sekali bagi kita untuk memahami watak dan kedudukan dari segi-segi yang berkontradiksi itu. Seperti telah dijelaskan di atas, antara segi-segi yang berkontradiksi itu terdapat perjuangan dimana dalam perjuangan itu, sudah tentu ada segi yang akan kalah dan ada segi yang akan menang, ada segi yang akan berkembang dan ada segi yang akan mengalami kehancuranya. Segi yang akan menang dan segi yang akan berkembang itu disebut segi baru sedangkan segi yang akan kalah dan akan mengalami kehancuranya itu disebut segi lama.

           Segi baru pada awalnya lemah, tetapi ia berkembang dan lama-kelamaan menjadi segi yang kuat dan mengalahkan segi lama. Harus juga diketahui bahwa menilai segi-segi itu dari sudut yang tertera adalah menilainya dari sudut wataknya. Contoh : kontradiksi antara rakyat Indonesia dengan tentara yang berdwifungsi. Rakyat Indonesia adalah segi baru sedangkan tentara adalah segi lama. Rakyat Indonesia pada awal kontradiksi itu adalah segi yang lemah tetapi berkembang terus dan akhirnya ia pasti akan mengalahkan tentara yang berdwifungsi.

           Kemudian, kita harus pula meninjau segi-segi itu dari sudut kedudukanya, yaitu dari sudut peranan segi yang satu terhadap segi yang lain dalam kontradiksi itu. Pada suatu tingkat proses perkembangan tertentu sesuatu kontradiksi, ada segi yang berperan memimpin segi yang lain sehingga ia memimpin arah perkembangan kontradiksi itu. Segi yang memimpin disebut segi pokok sedangkan segi yang dipimpin itu disebut segi bukan pokok. Misalnya, perkembangan kontradiksi antara ideologi proletariat dengan ideologi non proletariat di dalam pikiran seorang buruh. Pada mulanya ideologi proletariat itu masih  merupakan benih-benih yang baru tumbuh, ia masih lemah sementara, pada saat itu ideologi non proletariat merupakan segi pokok, masih kuat kedudukannya. Tetapi lewat pengalaman perjuangan dan usaha yang ulet serta terus-menerus dari aktivis-aktivis partai dalam menjelaskan program dan konstitusi partai kepadanya maka, ideologi proletariat itu berkembang hingga kesuatu tingkat menjadi sedemikian kuatnya sehingga menentukan tindak tanduknya dan mendorong dia masuk menjadi anggota partai. Pada saat itu ideologi proletariat menjadi segi pokok dan ideologi non proletariat menjadi segi bukan pokok.

           Dalam keadaan tertentu dari proses perkembangan suatu kontradiksi pokok bisa berubah menjadi segi bukan pokok dan sebaliknya. Demikian pula dalam kontradiksi antara ideologi proletariat dengan ideologi non proletariat tadi, pada mulanya segi pokoknya adalah non proletariat tetapi dalam proses selanjutnya ideologi non proletariat itu menjadi segi bukan pokok yaitu, ketika ia menjadi anggota partai. Ideologi proletariat yang pada mulanya segi bukan pokok kemudian menjadi segi  pokok.

 

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "METODE BERPIKIR"

Posting Komentar